Kamis, 16 Oktober 2014

Diabetes pada Kehamilan

Pengaruh diabetes pada  kehamilan






Kehamilan, disamping merupakan saat-saat yang membahagiakan bagi sang calon ibu, juga merupakan periode yang menimbulkan kekhawatiran. Hal ini selain disebabkan oleh beban fisik dan psikis yang bertambah pada tubuh ibu, juga karena beberapa penyakit tertentu justru muncul pada periode penting ini. Sebut saja hipertensi tipe khas yang disebut dengan preeklampsia dan eklampsia, kemudian asma yang diinduksi oleh kehamilan, anemia berat, dan diabetes gestasional - tipe diabetes khusus yang hanya terjadi pada saat kehamilan. Pada bahasan kali ini, penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya diabetes pada kehamilan itu, dampaknya bagi ibu dan janin, serta cara penanggulangannya.

Gestasional Diabetes, diabetes khusus pada ibu hamil

Diabetes gestasional merupakan salah satu dari beberapa tipe diabetes, yang khusus dialami oleh ibu hamil, yang sebelumnya tidak menderita diabetes. Pelacakan terhadap diabetes gestasional biasanya dimulai saat memasuki trimester kedua, yakni antara minggu ke 24-28, karena umumnya peningkatan kadar gula darah yang signifikan terdeteksi pada minggu-minggu tersebut. Namun pada sebagian kecil kasus, diabetes gestasional dapat terjadi lebih awal, dan berkorelasi erat dengan dampak yang berat pada janin, seperti keguguran atau cacat berat pada organ utama janin, seperti otak dan jantung.

Menurut WHO, kriteria diagnostik untuk diabetes gestasional adalah:
  • Kadar glukosa plasma darah vena saat puasa lebih dari atau sama dengan 126 mg/dl (7 mmol/l). Namun jika kadar glukosa puasa dibawah angka tersebut, untuk benar-benar menyingkirkan dugaan diabetes gestasional, hasilnya harus dipadukan dengan hasil tes toleransi glukosa 2 jam.
  • Kadar glukosa plasma lebih dari atau sama dengan 140.4 mg/dl (7.8 mmol/l) pada 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral menggunakan asupan 75 g glukosa.

Yang membedakan diabetes gestasional dengan diabetes pada umumnya yang bersifat kronis, diabetes gestasional umumnya akan membaik dan kadar gula darah penderita akan kembali normal segera setelah persalinan.

Penyebab Gestasional Diabetes

Diantara proses yang diduga menyebabkan lonjakan kenaikan gula darah pada saat hamil adalah pengaruh plasenta janin terhadap kerja hormon insulin ibu. Sebagaimana lazim diketahui, plasenta menghasilkan hormon-hormon yang menunjang tumbuh kembang janin. Namun disisi lain, plasenta juga memproduksi hormon untuk mencegah penurunan drastis kadar gula darah ibu, dengan cara menghambat kerja hormon insulin ibu. Akibatnya, jumlah insulin yang dibutuhkan untuk memasukkan zat gula ke dalam sel-sel tubuh ibu meningkat hingga mencapai tiga kali lipat kebutuhan normalnya. Apabila tubuh ibu tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan, maka zat gula akan lebih banyak menetap dalam darah, dan terjadilah yang disebut dengan diabetes gestasional.

Mereka yang Berisiko Menderita Diabetes Gestasional

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seorang ibu menderita diabetes pada saat kehamilannya. Diantara faktor risiko tersebut adalah:
  • Toleransi glukosa terganggu atau toleransi glukosa puasa terganggu sebelum kehamilan (yakni kadar gula darah tinggi namun belum cukup untuk dikategorikan sebagai diabetes)
  • Berat badan berlebih (overweight) sebelum hamil (yakni berat badan 20% atau lebih diatas berat badan ideal)
  • Obesitas, yakni indeksi massa tubuh (IMT) sebelum hamil adalah 30 atau lebih
  • Riwayat keluarga mengidap diabetes, khususnya kerabat terdekat, misalnya orangtua atau saudara
  • Riwayat melahirkan bayi dengan berat diatas 4000 gr sebelumnya
  • Riwayat melahirkan bayi lahir mati sebelumnya, khususnya jika penyebabnya tidak diketahui
  • Riwayat diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • Jumlah cairan amnion berlebih (polihidramnios)
Meskipun demikian, cukup banyak pula wanita yang mengalami diabetes gestasional tanpa adanya faktor risiko yang dapat diidentifikasi sebelumnya.

Gejala dan Dampak Diabetes Gestasional pada Ibu

Sebagaimana diabetes pada umumnya, gejala awal gangguan ini tidak langsung dirasakan oleh ibu yang mengalaminya. Seringkali gejala yang timbul menyerupai keluhan umum pada kehamilan normal, seperti mudah lelah, mudah haus, dan lebih sering berkemih.

Namun meski gejala yang ditimbulkannya tergolong ringan, dampak diabetes gestasional terhadap kesehatan ibu secara keseluruhan tidak dapat dianggap remeh.

Gejala dan dampak diabetes gestasional diantaranya adalah:

  • Peningkatan risiko persalinan prematur
  • Peningkatan risiko mengalami preeklampsia dan eklampsia, khususnya pada trimester akhir kehamilan.
  • Peningkatan risiko menderita diabetes tipe 2 di waktu mendatang
  • Peningkatan risiko menderita diabetes gestasional pada kehamilan selanjutnya
  • Jika bayi memiliki berat diatas normal, ibu berisiko untuk mengalami kesulitan saat persalinan, seperti persalinan lama, robeknya jalan lahir, pendarahan, dan robekan rahim pada ibu yang sebelumnya menjalani persalinan caesar.

Dampak Diabetes Gestasional pada Bayi

Selain berdampak pada ibu, diabetes gestasional juga memberikan pengaruh kurang baik bagi tumbuh kembang janin di dalam rahim. Diantaranya dampaknya adalah:
  • Bayi besar (makrosomia), yang menyebabkan kesulitan pada kehamilan tahap lanjut dan persalinan. Bayi makrosomia dapat didefinisikan sebagai bayi dengan berat lahir diatas 4000-4500 g, berapapun usia kehamilannya saat dilahirkan. Bayi makrosomia berisiko mengalami cedera saat lahir melalui persalinan per vaginam, seperti cedera bahu, patah tulang, dan cedera atau kelumpuhan saraf. Oleh karena itu, penanganan persalinan untuk bayi makrosomia hampir selalu memerlukan operasi.
  • Bayi berisiko mengalami hipoglikemia saat lahir. Jika tidak cepat ditangani, bayi dapat menderita kejang.
  • Bayi berisiko lebih besar untuk mengidap gangguan toleransi glukosa dan diabetes di usia dewasa
  • Bayi berisiko menderita obesitas pada masa kanak-kanak
  • Bayi berisiko mengalami sindrom distress pernafasan saat lahir, baik pada kondisi prematur maupun matur
  • Bayi berisiko mengalami hiperbilirubinemia
  • Bayi berisiko mengalami gangguan pencapaian intelektual (gangguan intelegensia)

Penanganan Diabetes Gestasional

Penanganan diabetes gestasional secara umum memiliki kemiripan dengan penanganan diabetes tipe lainnya. Langkah-langkah penanganan tersebut meliputi:

Terapi Non-farmakologis
  • Penurunan berat badan, ditujukan bagi wanita dengan IMT > 27
  • Diet. Ibu hamil penderita diabetes gestasional sangat dianjurkan untuk mendapatkan pengarahan mengenai diet sehat oleh ahli gizi yang kompeten menangani diabetes. Bahan makanan diutamakan yang memiliki kandungan serat dan mikronutrien tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil tanpa meningkatkan gula darahnya secara signifikan.
  • Olahraga. Ibu hamil dianjurkan untuk berolahraga minimal 30 menit setiap harinya, seperti jalan kaki, jalan cepat, berenang, bersepeda, dll.

Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis dipertimbangkan untuk diberikan jika setelah 1-2 minggu terapi non-farmakologis gagal menurunkan kadar gula darah ibu, atau jika pemeriksaan USG menunjukkan tahap awal makrosomi pada janin (lingkar perut > persentil ke 70).

Terapi farmakologis dapat dilakukan menggunakan insulin reguler, analog insulin aksi cepat, dan/atau obat-obatan antidiabetik oral seperti metformin dan glibenklamid. Akan tetapi, penggunaan insulin lebih banyak dilakukan, karena masih adanya kontroversi mengenai keamanan pemakaian obat antidiabetik oral selama kehamilan. Yang perlu digarisbawahi dalam terapi farmakologis ini adalah terapi bersifat spesifik untuk masing-masing penderita, sehingga dosisnya harus disesuaikan dengan kebutuhan individual.

Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa diabetes gestasional merupakan salah satu gangguan kesehatan khas pada kehamilan yang memerlukan perhatian dan penanganan yang cermat, agar kesehatan ibu dan janin dapat tetap terjaga, dan terhindar dari beragam komplikasi yang diakibatkannya.

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Posting Komentar