Nama saya Siswanto namun saya dipanggil Pakde Chon . Ini adalah beranda saya: Saya tinggal di Madiun, dan bekerja sebagai Perawat di Puskesmas ACME Corp .

Kamis, 16 Oktober 2014

Diabetes pada Kehamilan

Pengaruh diabetes pada  kehamilan






Kehamilan, disamping merupakan saat-saat yang membahagiakan bagi sang calon ibu, juga merupakan periode yang menimbulkan kekhawatiran. Hal ini selain disebabkan oleh beban fisik dan psikis yang bertambah pada tubuh ibu, juga karena beberapa penyakit tertentu justru muncul pada periode penting ini. Sebut saja hipertensi tipe khas yang disebut dengan preeklampsia dan eklampsia, kemudian asma yang diinduksi oleh kehamilan, anemia berat, dan diabetes gestasional - tipe diabetes khusus yang hanya terjadi pada saat kehamilan. Pada bahasan kali ini, penulis ingin sedikit berbagi mengenai apa dan bagaimana sebenarnya diabetes pada kehamilan itu, dampaknya bagi ibu dan janin, serta cara penanggulangannya.

Gestasional Diabetes, diabetes khusus pada ibu hamil

Diabetes gestasional merupakan salah satu dari beberapa tipe diabetes, yang khusus dialami oleh ibu hamil, yang sebelumnya tidak menderita diabetes. Pelacakan terhadap diabetes gestasional biasanya dimulai saat memasuki trimester kedua, yakni antara minggu ke 24-28, karena umumnya peningkatan kadar gula darah yang signifikan terdeteksi pada minggu-minggu tersebut. Namun pada sebagian kecil kasus, diabetes gestasional dapat terjadi lebih awal, dan berkorelasi erat dengan dampak yang berat pada janin, seperti keguguran atau cacat berat pada organ utama janin, seperti otak dan jantung.

Menurut WHO, kriteria diagnostik untuk diabetes gestasional adalah:
  • Kadar glukosa plasma darah vena saat puasa lebih dari atau sama dengan 126 mg/dl (7 mmol/l). Namun jika kadar glukosa puasa dibawah angka tersebut, untuk benar-benar menyingkirkan dugaan diabetes gestasional, hasilnya harus dipadukan dengan hasil tes toleransi glukosa 2 jam.
  • Kadar glukosa plasma lebih dari atau sama dengan 140.4 mg/dl (7.8 mmol/l) pada 2 jam setelah tes toleransi glukosa oral menggunakan asupan 75 g glukosa.

Yang membedakan diabetes gestasional dengan diabetes pada umumnya yang bersifat kronis, diabetes gestasional umumnya akan membaik dan kadar gula darah penderita akan kembali normal segera setelah persalinan.

Penyebab Gestasional Diabetes

Diantara proses yang diduga menyebabkan lonjakan kenaikan gula darah pada saat hamil adalah pengaruh plasenta janin terhadap kerja hormon insulin ibu. Sebagaimana lazim diketahui, plasenta menghasilkan hormon-hormon yang menunjang tumbuh kembang janin. Namun disisi lain, plasenta juga memproduksi hormon untuk mencegah penurunan drastis kadar gula darah ibu, dengan cara menghambat kerja hormon insulin ibu. Akibatnya, jumlah insulin yang dibutuhkan untuk memasukkan zat gula ke dalam sel-sel tubuh ibu meningkat hingga mencapai tiga kali lipat kebutuhan normalnya. Apabila tubuh ibu tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan, maka zat gula akan lebih banyak menetap dalam darah, dan terjadilah yang disebut dengan diabetes gestasional.

Mereka yang Berisiko Menderita Diabetes Gestasional

Terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko seorang ibu menderita diabetes pada saat kehamilannya. Diantara faktor risiko tersebut adalah:
  • Toleransi glukosa terganggu atau toleransi glukosa puasa terganggu sebelum kehamilan (yakni kadar gula darah tinggi namun belum cukup untuk dikategorikan sebagai diabetes)
  • Berat badan berlebih (overweight) sebelum hamil (yakni berat badan 20% atau lebih diatas berat badan ideal)
  • Obesitas, yakni indeksi massa tubuh (IMT) sebelum hamil adalah 30 atau lebih
  • Riwayat keluarga mengidap diabetes, khususnya kerabat terdekat, misalnya orangtua atau saudara
  • Riwayat melahirkan bayi dengan berat diatas 4000 gr sebelumnya
  • Riwayat melahirkan bayi lahir mati sebelumnya, khususnya jika penyebabnya tidak diketahui
  • Riwayat diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
  • Jumlah cairan amnion berlebih (polihidramnios)
Meskipun demikian, cukup banyak pula wanita yang mengalami diabetes gestasional tanpa adanya faktor risiko yang dapat diidentifikasi sebelumnya.

Gejala dan Dampak Diabetes Gestasional pada Ibu

Sebagaimana diabetes pada umumnya, gejala awal gangguan ini tidak langsung dirasakan oleh ibu yang mengalaminya. Seringkali gejala yang timbul menyerupai keluhan umum pada kehamilan normal, seperti mudah lelah, mudah haus, dan lebih sering berkemih.

Namun meski gejala yang ditimbulkannya tergolong ringan, dampak diabetes gestasional terhadap kesehatan ibu secara keseluruhan tidak dapat dianggap remeh.

Gejala dan dampak diabetes gestasional diantaranya adalah:

  • Peningkatan risiko persalinan prematur
  • Peningkatan risiko mengalami preeklampsia dan eklampsia, khususnya pada trimester akhir kehamilan.
  • Peningkatan risiko menderita diabetes tipe 2 di waktu mendatang
  • Peningkatan risiko menderita diabetes gestasional pada kehamilan selanjutnya
  • Jika bayi memiliki berat diatas normal, ibu berisiko untuk mengalami kesulitan saat persalinan, seperti persalinan lama, robeknya jalan lahir, pendarahan, dan robekan rahim pada ibu yang sebelumnya menjalani persalinan caesar.

Dampak Diabetes Gestasional pada Bayi

Selain berdampak pada ibu, diabetes gestasional juga memberikan pengaruh kurang baik bagi tumbuh kembang janin di dalam rahim. Diantaranya dampaknya adalah:
  • Bayi besar (makrosomia), yang menyebabkan kesulitan pada kehamilan tahap lanjut dan persalinan. Bayi makrosomia dapat didefinisikan sebagai bayi dengan berat lahir diatas 4000-4500 g, berapapun usia kehamilannya saat dilahirkan. Bayi makrosomia berisiko mengalami cedera saat lahir melalui persalinan per vaginam, seperti cedera bahu, patah tulang, dan cedera atau kelumpuhan saraf. Oleh karena itu, penanganan persalinan untuk bayi makrosomia hampir selalu memerlukan operasi.
  • Bayi berisiko mengalami hipoglikemia saat lahir. Jika tidak cepat ditangani, bayi dapat menderita kejang.
  • Bayi berisiko lebih besar untuk mengidap gangguan toleransi glukosa dan diabetes di usia dewasa
  • Bayi berisiko menderita obesitas pada masa kanak-kanak
  • Bayi berisiko mengalami sindrom distress pernafasan saat lahir, baik pada kondisi prematur maupun matur
  • Bayi berisiko mengalami hiperbilirubinemia
  • Bayi berisiko mengalami gangguan pencapaian intelektual (gangguan intelegensia)

Penanganan Diabetes Gestasional

Penanganan diabetes gestasional secara umum memiliki kemiripan dengan penanganan diabetes tipe lainnya. Langkah-langkah penanganan tersebut meliputi:

Terapi Non-farmakologis
  • Penurunan berat badan, ditujukan bagi wanita dengan IMT > 27
  • Diet. Ibu hamil penderita diabetes gestasional sangat dianjurkan untuk mendapatkan pengarahan mengenai diet sehat oleh ahli gizi yang kompeten menangani diabetes. Bahan makanan diutamakan yang memiliki kandungan serat dan mikronutrien tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil tanpa meningkatkan gula darahnya secara signifikan.
  • Olahraga. Ibu hamil dianjurkan untuk berolahraga minimal 30 menit setiap harinya, seperti jalan kaki, jalan cepat, berenang, bersepeda, dll.

Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis dipertimbangkan untuk diberikan jika setelah 1-2 minggu terapi non-farmakologis gagal menurunkan kadar gula darah ibu, atau jika pemeriksaan USG menunjukkan tahap awal makrosomi pada janin (lingkar perut > persentil ke 70).

Terapi farmakologis dapat dilakukan menggunakan insulin reguler, analog insulin aksi cepat, dan/atau obat-obatan antidiabetik oral seperti metformin dan glibenklamid. Akan tetapi, penggunaan insulin lebih banyak dilakukan, karena masih adanya kontroversi mengenai keamanan pemakaian obat antidiabetik oral selama kehamilan. Yang perlu digarisbawahi dalam terapi farmakologis ini adalah terapi bersifat spesifik untuk masing-masing penderita, sehingga dosisnya harus disesuaikan dengan kebutuhan individual.

Sebagai penutup, dapat kita katakan bahwa diabetes gestasional merupakan salah satu gangguan kesehatan khas pada kehamilan yang memerlukan perhatian dan penanganan yang cermat, agar kesehatan ibu dan janin dapat tetap terjaga, dan terhindar dari beragam komplikasi yang diakibatkannya.

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Komplikasi Diabetes

Komplikasi Diabetes Mellitus





Penyakit gula/diabetes melitus (DM) adalah kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia (peningkatan glukosa/kadar gula dalam darah) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Jika proses dalam tubuh seimbang, maka kelebihan glukosa dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit. Tapi jika kadar insulin rendah, atau insulin tidak diproduksi maka ini dapat menyebabkan kadar glukosa menumpuk dalam darah atau yang lebih dikenal dengan sakit gula/DM. Penyakit DM bisa dialami siapa saja, baik yang kurus atau yang gemuk, baik yang muda atau yang tua, baik wanita atau pria.

Pada penderita DM dapat terjadi komplikasi pada semua tingkat sel dan semua tingkatan anatomik. Manifestasi komplikasi kronik dapat terjadi pada tingkat pembuluh darah kecil (mikrovaskular) berupa kelainan pada retina mata, glomerulus ginjal, saraf, dan pada otot jantung (kardiomiopati). Pada pembuluh darah besar, manifestasi komplikasi kronik DM dapat terjadi pada pembuluh darah serebral, jantung (penyakit jantung koroner), dan pembuluh darah perifer (tungkai bawah). Komplikasi lain DM dapat berupa kerentanan berlebih terhadap infeksi saluran kemih, tuberkolosis paru, dan infeksi kaki, yang kemudian dapat menjadi ulkus/gangrene diabetes.

Dari gejala-gejala pada artikel sebelumnya, sepertinya diabetes bukanlah penyakit yang berat, bahkan sebagian penderita tidak merasakan bahwa ia sedang sakit. Namun, ada hal yang perlu diwaspadai di balik itu, yaitu komplikasi diabetes. Komplikasi inilah yang justru lebih berat dari penyakitnya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Sayangnya, komplikasi ini tidak timbul segera, tetapi muncul setelah bertahun-tahun, bahkan bisa muncul setelah 10-20 tahun. Komplikasi ini disebabkan karena tingginya kadar gula yang persisten di dalam darah, sehingga menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf.

Beberapa komplikasi diabetes mellitus yaitu:

  • Penyakit Kardiovaskular : penderita diabetes berisiko dua kali lebih besar terkena penyakit jantung dan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular), seperti atherosclerosis, penyakit jantung koroner, dan stroke. Sekitar 75% kematian penderita diabetes disebabkan penyakit jantung koroner.
  • Retinopathy Diabetes: adalah komplikasi diabetes yang disebabkan kerusakan pembuluh darah kecil (kapiler) pada retina mata, dengan gejala penurunan penglihatan sampai kebutaan.
  • Nefropathy Diabetes: adalah komplikasi diabetes yang disebabkan kerusakan pembuluh kapiler ginjal, sehingga menyebabkan kebocoran protein ke dalam air kencing (urin), dan menyebabkan gagal ginjal kronis yang memerlukan terapi cuci darah.
  • Neuropathy Diabetes: adalah komplikasi diabetes pada sistem saraf, sehingga menyebabkan mati rasa dan kesemutan, serta meningkatkan risiko kerusakan kulit terutama pada kaki, karena berkurangnya kepekaan kulit.
  • Ulkus Diabetes (Diabetic Foot Ulcer): yaitu luka pada kaki yang sulit sembuh dan sering menimbulkan masalah serius. Bahkan, pada beberapa kasus, memerlukan amputasi.
  • Penurunan Daya Pikir (Cognitive Deficit): beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien diabetes yang dibandingkan dengan pasien tanpa diabetes mengalami penurunan fungsi kognitif 1,2 sampai 1,5 kali lebih besar.
Komplikasi dari penyakit DM bisa dicegah asalkan gula darah bisa terkontrol dengan baik.
Beberapa cara pengendalian kadar gula darah meliputi :
  1. Penjagaan makanan. Penderita sebaiknya mengonsumsi makanan dengan karbohidrat rendah dan lambat menjadi gula. Perbanyak mengonsumsi buah dan sayuran terutama kubis, kacang panjang, dan paprika untuk memperbaiki fungsi pankreas. Pengaturan pola makan membutuhkan kedisiplinan. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli gizi mengenai pola makan yang tepat bagi penderita DM.
  2. Olahraga yang teratur. Olahraga yang benar dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain menurunkan kadar gula darah (dengan mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin), menurunkan berat badan, mencegah kegemukan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi
  3. Minum obat secara rutin. Penggunaan obat penurun gula darah diberikan setelah dengan cara pengaturan makan dan olahraga kadar gula darah belum terkontrol.
  4. Cukup istirahat dan menghindari stress. Faktor stress juga bisa berpengaruh terhadap peningkatan kadar gula darah.
Peran dan dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan untuk membantu dan mengingatkan penderita DM agar bisa mengelola penyakitnya dengan baik. Jika kada gula darah dapat terkontrol dengan baik, insyaAllah tidak akan terjadi komplikasi penyakit DM. Semoga bermanfaat.

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Olah raga untuk penderita diabetes

Memilih olah raga yang tepat bagi penderita diabetes






Olahraga yang tepat dan rutin merupakan salah satu dari empat pilar penanganan diabetes. Olahraga memiliki dampak positif langsung maupun tidak langsung terhadap para penderita diabetes atau diabetisi, seperti meningkatkan sensitivitas insulin sehingga glukosa darah lebih mudah masuk dan digunakan dalam sel, meningkatkan ambilan glukosa pada otot tanpa insulin, menjaga kestabilan berat badan dan tekanan darah, dsb. Namun tidak semua jenis olahraga dianjurkan bagi diabetisi, karena jika salah pilih, justru dapat membahayakan kesehatan.

Lalu, olahraga apa yang sesuai untuk penderita diabetes?

Jenis Olahraga yang dianjurkan

Jenis olahraga yang dianjurkan bagi diabetisi, karena telah terbukti efektivitasnya dalam menangani diabetes, adalah olahraga aerobik dan olahraga peregangan atau beban/resistensi. Olahraga aerobik adalah jenis olahraga yang berpusat pada peningkatan kerja jantung, pembuluh darah, serta optimalisasi penggunaan oksigen dalam tubuh, sedangkan olahraga peregangan berfokus pada pembentukan dan pemeliharaan massa otot tubuh. Keduanya sangat baik jika dipadukan, karena membantu mengontrol level gula darah, selain pengontrolan melalui diet sehat.
Pilihan olahraga aerobik meliputi jalan kaki, jalan cepat, jogging, lari, bersepeda, berenang, skating, dayung, dsb, Sedangkan olahraga beban seperti latihan beban di gym, push-up, sit up, squat, dan sejenisnya.

olahraga-untuk-penderita-diabetes
Durasi dan Frekuensi yang Dianjurkan Untuk olahraga aerobik, para pakar menganjurkan agar dilakukan minimal 30 menit per harinya, 5 hari dalam seminggu, atau total durasi olahraga seminggu selama 150 menit.
Intensitas yang dianjurkan adalah sedang sampai berat. Sebagai contoh, jika olahraga yang dilakoni adalah jalan cepat, maka intensitas sedang adalah jika si pelari masih mampu berlari sambil berbicara, namun tidak lebih dari itu. Adapun pada intensitas berat, si pelari tidak mampu lagi berlari sambil berbicara beberapa patah kata tanpa berhenti untuk mengambil nafas.

Sebaiknya olahraga dilakukan pada waktu yang memungkinkan, seperti di pagi hari. Namun jika target 30 menit tidak dapat terpenuhi dalam sekali berolahraga, misalnya akibat kesibukan sehari-hari, maka 30 menit tersebut dapat dipecah menjadi 3 sesi masing-masing 10 menit, atau 2 sesi dengan durasi per sesinya 15 menit. Menurut para pakar, selama dilakukan dengan rutin, efektivitasnya tetap menjanjikan.

Olahraga beban dianjurkan untuk dimasukkan sebagai tambahan olahraga aerobik yang sudah dilakukan. American Diabetic Association (ADA) merekomendasikan untuk memulai program latihan beban dengan intensitas sedang, yakni 1 set yang terdiri dari 10-15 kali pengulangan gerakan dengan tambahan beban, tiga kali seminggu. Jika penderita diabetes telah terbiasa dengan pola tersebut, maka
latihan dapat ditingkatkan menjadi tiga set, masing-masing terdiri dari 10-15 kali pengulangan, tiga kali seminggu.


Tidak biasa berolahraga?

Jika sebelumnya penderita diabetes tidak terbiasa berolahraga, maka dianjurkan untuk memulai dengan durasi minimal dan jenis olahraga yang paling ringan, seperti berjalan kaki atau berjalan cepat 5-10 menit per harinya, 1-2 hari per minggu. Ketika sudah terbiasa, maka durasi dan frekuensi olahraga dapat ditingkatkan secara bertahap setiap minggunya hingga mencapai durasi dan frekuensi yang ideal.

Jangan lupa...
Berolahraga dalam intensitas yang cukup tinggi, terlebih bagi penderita diabetes yang telah rutin menggunakan obat-obatan penurun kadar gula darah seperti insulin dan sejenisnya, dapat menyebabkan penurunan kadar gula darah secara drastis, sehingga mengakibatkan hipoglikemia. Oleh karena itu, sebelum berolahraga, sebaiknya penderita diabetes menyediakan beberapa hal dibawah ini untuk mengatasinya:
- 15-20 mg karbohidrat reaksi cepat, seperti karbohidrat dari tablet glukosa, minuman olahraga atau minuman manis lainnya.
- Snack manis
Jika memungkinkan, sebelum berolahraga, sebaiknya penderita diabetes mengkonsumsi makanan seperti buah-buahan atau serealia agar gula darah tidak mudah drop selama berolahraga. Disamping itu, hendaknya penderita diabetes telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai hipoglikemia dan tanda-tandanya, sehingga ketika kondisi ini mulai dirasakan, maka olahraga dapat segera dihentikan dan penderita diabetes dapat mengambil langkah penanganan yang sesuai.
Selain itu, sebelum memulai setiap rencana olahraga rutin, sebaiknya penderita diabetes berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawatnya, agar dapat dinilai kesesuaian olahraga dengan kondisi kesehatannya secara individual.

Ayo bergerak!
Disamping olahraga yang telah pakem ragamnya diatas, penderita diabetes juga dianjurkan tetap aktif dan banyak bergerak sepanjang harinya, serta menghindari terlalu lama duduk atau berbaring. Berjalan di sekeliling rumah, menyapu rumah dan halaman, mengepel, berkebun, menata rumah, berkunjung ke tetangga, berbelanja sambil berjalan kaki, naik turun tangga, dan beragam aktivitas harian lainnya juga berkontribusi dalam menjaga kestabilan gula darah diabetisi, selain praktis dan sangat mudah untuk dilakukan. Jadi, ayo bergerak!

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Rabu, 15 Oktober 2014

Merawat Luka Komplikasi Diabetes

Merawat luka Diabetes






Setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya luka, yaitu terputusnya kontinuitas jaringan kulit akibat trauma fisik, mekanik, suhu, maupun bahan kimia sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada fungsinya, dan menimbulkan berbagai keluhan seperti, nyeri, demam, dan bengkak.

Secara umum luka dapat sembuh dengan sendirinya sebagai bentuk respon tubuh untuk memperbaiki sendiri apa yang rusak pada bagian tubuhnya, ini terjadi jika dalam tubuh orang tersebut semua sistem berjalan dengan baik dan tidak terdapat penyulit yang dapat menyebabkan tubuh tidak dapat atau lambat melakukan proses penyembuhan.

Apabila kita menjumpai luka yang tidak kunjung sembuh, kita harus berhati-hati. Bisa jadi, kita mengalami apa yang dinamakan luka kronik atau luka yang tidak kunjung sembuh dalam waktu dua sampai dengan empat pekan. Salah satu komplikasi yang dapat dialami oleh penderita penyakit diabetes melitus adalah timbulnya luka kronis seperti luka tekan, borok kaki, ulkus kaki diabetik dan jenis lain dari luka yang sulit untuk disembuhkan, kondisi ini disebabkan karena kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol sehingga merusak pembuluh darah yang mengakibatkan aliran darah ke daerah yang mengalami luka berkurang (iskemik).

Penyebab lainnya adalah akibat persyarafan yang kurang sensitif terhadap nyeri (neuropati) . Penderita penyakit gula biasanya baru manyadari ketika lukanya sudah mengeluarkan cairan atau nanah dan terjadi infeksi.

Merawat-luka-diabetes
Bagian tubuh penderita diabetes yang paling sering mengalami perlukaan adalah kaki, jika tidak dirawat dengan teratur dapat mengakibatkan terjadinya infeksi bahkan sampai dilakukan amputasi. Karenanya, penting bagi penderita penyakit diabetes untuk melakukan perawatan diri pada bagian kaki. Tindakan awal berupa upaya pencegahan yang tepat sangat penting untuk dilakukan guna menghindari efek buruk luka pada kaki diabetes adalah sebagai berikut :

1. Memeriksa kaki secara rutin setiap hari, apakah ada luka, lecet, goresan, pembengkakan , tanda tekanan atau retak antara ruang jari-jari kaki, kemerahan atau bengkak di sekitar kuku, masalah sepele pada kaki penderita diabetes dapat memicu masalah yang lebih besar yang mengarah ke amputasi.

2. Potonglah kuku kaki dengan gunting kuku setelah mencuci kaki.

3. Jangan pergi tanpa menggunakan alas kaki, bahkan di dalam ruangan sekalipun. Karena kaki penderita diabetes sangat mudah untuk menginjak sesuatu yang dapat membuat luka pada jari-jari kaki, lindungi kaki Anda dengan memakai sepatu yang nyaman dan kokoh, yang tidak terlalu ketat atau longgar untuk menghindari lecet pada kaki dan gunakanlah kaus kaki yang berbahan wol atau katun. Jangan lupa, setiap kali akan mengenakan sepatu goyangkan sepatu untuk menghilangkan kerikil atau objek lain yang bersembunyi di dalam sepatu.

4. Cuci dan bersihkan kaki Anda setiap hari menggunakan air hangat dan sabun, lalu keringkan dan berikan perhatian lebih pada jari kaki. Berilah pelembab pada ujung dan jari-jari kaki setidaknya dua kali sehari sehingga kaki Anda terhindar dari kekeringan.

5. Lakukan perawatan ekstra untuk mengeringkan kaki Anda sepenuhnya, terutama diantara jari-jari kaki. Kaki yang lembab atau basah dapat menyebabkan berbagai macam masalah.

6. Apabila kaki lecet atau sudah muncul luka yang sudah bernanah Harus berkonsultasi segera dengan dokter atau perawat spesialis luka yang sudah terlatih.

7. Lakukan latihan kaki secara teratur, ketika duduk dengan memutar pergelangan kaki, goyangkan jari-jari kaki atau gerakkan kaki naik dan turun. Ini semua dapat melancarkan sirkulasi darah dan membantu meminimalkan risiko masalah pada kaki.

8. Wajib berhenti merokok karena kandungan zat racun rokok akan merusak pembuluh darah dan menyebabkan sirkulasi darah memburuk.

9. Mengontrol kadar gula darah dengan makan diet seimbang dan mengonsumsi secara rutin obat yang diresepkan.

Tips merawat luka diabetes

Bagaimana apabila luka sudah terjadi, upaya perawatan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan penanganan luka diabetes oleh keluarga di rumah adalah :

  1. Awali dengan membaca basmalah dan doa terlebih dahulu, kemudian cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir dan pakai sarung tangan, cuci luka dengan menggunakan sabun cair (sabun cair antiseptik lebih dianjurkan), cairan untuk mencuci luka boleh menggunakan air hangat rebusan daun jambu biji (5 lembar daun jambu biji di rebus dalam 1 liter air sampai menjadi 0,5 liter), cairan tersebut terbukti dapat menggurangi bau khas pada luka diabetes dan melancarkan peredaraan darah. Cairan lain yang dapat digunakan adalah Nacl 0,9 %.
  2. Hindari mencuci dengan cairan yang toksik atau racun untuk luka misalnya H2O2
  3. Keringkan luka menggunakan pinset dan kassa steril
  4. Perhatikan luka dengan detail yang meliputi warna dasar luka, ukuran, jumlah cairan, dan bau.
  5. Apabila warna dasar luka hitam atau kuning, maka itu adalah jaringan mati yang harus dilakukan diangkat (debridemen) oleh perawat/dokter yang sudah terlatih, atau bisa juga dengan menggunakan obat khusus yang dapat melunakan jaringan mati tersebut, sehingga akan mudah untuk dilakukan pengangkatan jaringan, misalnya: hydrogel. Luka yang baik jika warna dasar luka sudah berwarna merah.
  6. Tutup luka dengan menggunakan kassa steril yang dilembabkan dengan NaCl 0,9 %.
  7. Plester/fiksasi dengan menggunakan plester yang aman/hypoalergi, plester tertutup semua bagian kassa (bukan hanya pinggir kassa), untuk menjamin balutan dapat bertahan lama dan mencegah balutan kotor.
  8. Pakai kaos kaki yg lembut, nyaman dan menyerap keringat (terutama saat keluar rumah) untuk menghindari balutan kotor juga memberikan rasa nyaman pada penderita.
  9. Bereskan peralatan yang digunakan dan cuci tangan
Demikian tips pencegahan dan perawatan luka diabetes yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca majalah kesehatan muslim dimanapun Anda berada.

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Senin, 13 Oktober 2014

Panduan Diet bagi Penderita Diabetes Mellitus

Diet untuk penderita diabetes mellitus






Bagi penderita diabetes mellitus, diet atau pengaturan makan mempunyai peran yang sangat besar dalam mengendalikan perkembangan penyakitnya. Pengaturan makan bersama dengan olahraga yang teratur berperan dalam penurunan berat badan. Para ahli telah mengemukakan bahwa penurunan berat badan sebesar 5-10% akan menurunkan kadar gula darah secara signifikan.

Selain berguna untuk menurunkan berat badan, pengaturan makan atau diet juga bertujuan untuk menormalkan kadar gula darah, menormalkan tekanan darah, dan menormalkan kadar kolesterol darah. Pengaturan makan bagi penderita diabetes ini mempunyai beberapa prinsip, yaitu:

1. Menyesuaikan antara pasokan dengan pengeluaran energi
Jumlah makanan yang masuk sebaiknya ditakar dan dihitung jumlah kalorinya untuk disesuaikan dengan jumlah energy yang keluar setiap hari. Penderita bisa meminta tolong kepada dokter atau ahli gizi untuk menghitung jumlah pasokan dan pengeluaran energy ini.

2. Mengetahui target berat badan yang diinginkan
Target berat badan yang diinginkan disesuaikan dengan umur dan jenis kelamin. Berat badan yang diinginkan diukur berdasarkan indeks massa tubuh (body mass index atau BMI ), yang dihitung dengan membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan tinggi badan dalam satuan meter persegi. Berat badan dianggap baik apabila nilai BMI kurang dari 25. Nilai BMI antara 25 dan 30, berarti kelebihan berat badan, sedangkan BMI lebih dari 30 berarti kegemukan dan berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan.
3. Memprediksi rasio penurunan berat badan
Meskipun menurunkan berat badan sangat dianjurkan dalam pengelolaan diabetes, namun tidak dianjurkan untuk tergesa-gesa dalam menurunkannya. Penurunan berat badan yang ideal adalah sekitar 1-2 kg per bulan. Penurunan berat badan yang bertahap cenderung memudahkan untuk mempertahankan berat badan ideal dalam waktu yang lebih lama.

4. Merencanakan diet yang sesuai
Sebenarnya, tidak ada yang diit khusus bagi penderita diabetes. Diet yang dianjurkan secara umum sama dengan pola makan sehat yang dianjurkan bagi semua orang, dengan prinsip: mengandung nutrisi tinggi, rendah lemak, tinggi serat, dan cukup kalori. Pola makan ini tidak hanya baik untuk diterapkan pada penderita diabetes, namun juga pada siapa saja dengan faktor risiko diabetes, atau yang ingin terhindar dari diabetes.

Sedikit perbedaan antara pola makan penderita diabetes dengan selainnya adalah, bahwa penderita diabetes harus lebih memperhatikan pilihan makanan yang akan dikonsumsi, khususnya karbohidrat.

Beberapa tips memilih jenis makanan bagi penderita diabetes adalah:


• Memilih makanan dengan karbohidrat kompleks dan berserat tinggi
Karbohidrat memberikan pengaruh besar terhadap kadar gula dalam darah. Akan tetapi, bukan berarti penderita diabetes harus menghindari karbohidrat sama sekali, melainkan cermat dalam memilih jenis karbohidrat yang dikonsumsi. Secara umum, dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohidrat kompleks dan berserat tinggi, karena akan lebih lambat diuraikan oleh pencernaan sehingga membantu menjaga kadar gula darah. Selain itu, karbohidrat kompleks akan memberikan energi lebih bagi tubuh dan membuat kita merasa kenyang lebih lama.

Sebaliknya, makanan dengan karbohidrat sederhana sebaiknya dibatasi dan dikurangi, seperti pasta, soda, alkohol, makanan yang mengandung pemanis atau gula berlebih, dan sebagian besar makanan ringan (snack). Begitu juga makanan dengan karbohidrat kompleks tetapi mempunyai kandungan serat yang rendah, seperti nasi putih dan kentang. Jenis-jenis makanan ini lebih baik digantikan dengan nasi merah, gandum (seral dan roti gandum murni), dan juga sereal yang mengandung serat dan nutrisi tinggi.

Asupan karbohidrat juga perlu diimbangi dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan segar. Sayuran memberikan nutrisi yang penting, misalnya saja brokoli dan bayam, yang memang disarankan untuk penderita diabetes. Beberapa sayuran lain yang dapat dikonsumsi dengan leluasa antara lain: kembang kol, gambas, kangkung, jamur segar, selada, sawi, kecipir, tomat, rebung, cabai hijau besar, dan pepaya muda. Sedangkan buah-buahan yang aman dikonsumsi adalah buah-buahan yang tidak terlalu manis, seperti apel, jeruk, mangga, manggis, mengkudu, tomat, pir, persik, dan buah beri. Beberapa jenis buah lainnya tidak baik dikonsumsi dan sebaiknya dihindari seperti: durian, rambutan, anggur, sawo, dan nanas.

• Berhati-hati dengan makanan dan minuman yang manis
Menderita diabetes tidak berarti harus menghindari gula sama sekali. Penderita diabetes tetap dapat mengkonsumsi makanan kesukaannya, asalkan tidak berlebihan. Tips untuk tetap mengkonsumsi makanan yang manis adalah dengan mengkonsumsinya pada saat jam makan saja (sebagai penutup) dan tidak mengkonsumsinya di luar jam makan, serta mempertimbangkan untuk mengurangi porsi hidangan utama ketika ingin mengkonsumsi makanan manis setelahnya.

Beberapa orang mengganti gula biasa dengan gula jagung dengan anggapan lebih “aman” daripada gula biasa. Gula jagung (fruktosa) memang terbukti memiliki jumlah kalori yang lebih rendah, yaitu 3 kalori per gramnya, dibandingkan dengan gula biasa (sukrosa), yang mengandung 4 kalori per gramnya. Tetapi, ternyata hal ini bukanlah alasan untuk merasa aman mengkonsumsi pemanis pengganti ini. Penelitian yang dimuat oleh jurnal di Amerika mengungkapkan bahwa konsumsi fruktosa dalam jumlah tinggi selama 7 hari dapat memicu peningkatan kadar lemak dan menurunkan sensitifitas insulin pada manusia-manusia sehat dengan atau tanpa riwayat keluarga penderita kencing manis.
Karena itu , disimpulkan bahwa tidak ada satu pun jenis gula yang lebih baik dibandingkan dengan gula lainnya. Gula rendah kalori yang dikonsumsi secara berlebihan tetap akan memberikan efek yang berbahaya bagi tubuh, maka sebaiknya selalu kontrol jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari sesuai dengan kebutuhan kalori. Orang dengan kebutuhan kalori 1800 per hari, sebaiknya hanya mengkonsumsi 5 sendok teh gula setiap hari, sedangkan orang dengan kebutuhan 2000 kalori per hari, sebaiknya mengkonsumsi 8 sendok teh saja setiap harinya, apapun jenis gulanya.

• Memilih konsumsi lemak dengan bijak
Lemak bisa bermanfaat untuk tubuh, tetapi juga bisa berbahaya. Beberapa jenis lemak tidak menyehatkan bagi tubuh, tetapi beberapa jenis lainnya memberikan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan. Oleh karena penderita diabetes memiliki resiko mengalami penyakit jantung, maka ia harus bijak dalam memilih lemak yang dikonsumsi. Berikut adalah jenis-jenis lemak yang sehat dan tidak sehat yang harus diperhatikan oleh penderita diabetes dan keluarganya:

     Lemak yang baik
Lemak yang terbaik adalah lemak tak jenuh, yang banyak ditemukan pada tumbuhan dan ikan. Sumber utama yang populer adalah minyak zaitun, kacang-kacangan, kedelai dan susu kedelai, juga alpukat. Selain itu, disarankan juga untuk mengkonsumsi omega-3 (asam lemak omega-3) yang sangat baik bagi metabolisme tubuh, menjaga kesehatan otak, dan jantung. Sumber omega-3 yang tinggi dapat ditemukan pada ikan salmon, ikan tuna dan juga biji bunga matahari.

     Lemak yang tidak-baik
Kebalikan dengan lemak yang baik, lemak yang tidak disarankan adalah lemak jenuh (saturated fats). Lemak ini ditemukan pada daging merah/mentah, telur, keju, mentega, susu kemasan, es krim dan juga pada banyak makanan ringan (snack). Lemak jenuh bukannya tidak sehat sama sekali, karena jenis-jenis makanan yang mengandung lemak jenuh diatas juga memberikan nutrisi dan vitamin yang penting bagi tubuh. Hanya saja, bagi penderita diabetes, jenis lemak jenuh akan meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, yang nantinya meningkatkan resiko penyakit jantung.

• Mengontrol asupan kolesterol.
Mengontrol bukan berarti menyingkirkan makanan berkolesterol dari daftar menu, melainkan, memperhitungkan jumlah kolesterol yang masuk dalam makanan sehari-hari, sehingga tidak lebih dari 200 miligram per hari. Jenis-jenis makanan tinggi kolesterol yang perlu dihindari adalah: kuning telur, otak, dan jeroan.

• Mengontrol asupan garam.
Menurut rekomendasi dari Dietary Guidelines for Americans 2010, konsumsi garam sebaiknya 2.300 mg per hari, yang setara dengan satu sendok teh saja. Tetapi, untuk penderita diabetes dengan tekanan darah tinggi atau berusia 51 tahun ke atas, maka asupan garam sebaiknya 1.500 mg saja per hari. Untuk membatasi asupan garam, sebaiknya jangan membubuhkan garam, kecap (asin dan manis), dan saus botolan pada makanan.

Selain memperhatikan jenis makanan yang boleh dikonsumsi dan tidak boleh dikonsumsi, penderita diabetes juga sebaiknya mengatur pola makan. Mengatur pola makan bukan berarti melewatkan jam-jam makan sehingga membiarkan tubuh kelaparan, akan tetapi dengan makan secara teratur dan membuat catatan harian tentang makanan sehat yang akan dikonsumsi.

Makan secara teratur berarti makan 3 kali sehari, serta 2 kali makan ringan (snack) di antara jam makan. Ketika tubuh mendapatkan asupan makanan sehat secara teratur, maka kadar gula darah dan berat badan akan terkontrol dengan sendirinya. Namun, jangan lupa untuk memperhatikan porsi dan jenis makanan. Makan teratur dimulai dengan sarapan yang sehat, karena sarapan setiap hari akan memastikan tubuh memiliki cukup energi untuk beraktifitas, serta membantu menjaga kadar gula darah tetap normal. Rasa lapar akibat melewatkan sarapan cenderung membuat seseorang makan siang dengan porsi berlebihan. Asupan jumlah kalori juga harus dijaga tetap setiap harinya , sehingga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Terakhir, hal lain yang juga sebaiknya dilakukan adalah membuat catatan harian mengenai makanan yang dikonsumsi. Hal ini terbukti efektif dalam menurunkan berat badan, karena rekaman harian tersebut membantu mengidentifikasi masalah/efek makanan yang dikonsumsi dan membantu dalam proses evaluasi program diet, sehingga dengan mudah dapat dibandingkan jenis makanan, porsi, serta waktu makan dengan keberhasilan program menurunkan berat badan

Dengan memperhatikan panduan diet di atas, penderita diabetes dapat hidup dengan lebih nyaman, karena tidak perlu menyiksa diri dengan diet yang terlalu ketat, sekaligus dapat mengontrol penyakitnya. Yang diperlukan hanyalah kedisiplinan dan ketelatenan baik dari penderita sendiri maupun dari pihak keluarga atau pendamping.

Tidak ada salahnya juga untuk menerapkan panduan makan ini pada anggota keluarga yang lain, agar penderita tidak merasa dibedakan dari orang-orang di sekelilingnya. Toh, panduan ini akan membuat kita untuk selalu memperhatikan pola makan sehat. Jangan lupa juga untuk mengkombinasikannya dengan olahraga teratur, agar efek baik yang diharapkan segera tercapai. Nah, selamat mencoba!

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Minggu, 12 Oktober 2014

Mengenal jenis-jenis obat untuk diabetes

Obat diabetes






Bagi seorang penderita diabetes, tentu kesehariannya tidak bisa lepas dari obat baik yang berupa suntikan insulin maupun obat oral (yang diminum). Untuk itu, perlu kiranya bagi penderita diabetes mellitus (DM) atau keluarganya untuk mengetahui obat apa saja yang telah diresepkan dokter untuknya. Berbagai obat DM memiliki fungsi, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. Untuk itu, pada kesempatan kali ini, kami mencoba mengulas tentang obat antidiabetes oral.

Prinsip Pengobatan diabetes Tipe 2

Ada 2 prinsip yang biasa diterapkan dalam penanganan pasien DM tipe 2, yaitu :
1. Menggunakan obat tunggal jika memungkinkan atau sudah tercapai tujuannya.
2. Jika dengan obat tunggal belum mencapai target yang ingin dicapai, bisa dengan mengkombinasikan dua atau lebih obat antidiabetik oral atau kombinasi dengan insulin.

Ada 5 golongan obat antidiabetes oral, yaitu sebagai berikut :

Golongan Sulfonilurea
Sulfonilurea memiliki mekanisme kerja dengan meningkatkan sekresi insulin, meningkatkan sensitivitas jaringan terhadap insulin, dan menurunkan sekresi glukagon. Indikasi penggunaan sulfonilurea adalah untuk terapi DM tipe 2.
Sedangkan kontraindikasinya adalah pada pasien menyusui, ketoasidosis (kondisi yang terjadi ketika tubuh tidak mampu menggunakan glukosa sebagai sumber energi akibat kurangnya kadar insulin), dan gangguan ginjal. Sulfonilurea memiliki efek samping hipogilkemi (anjloknya kadar gula darah menjadi di bawah normal), gangguan pencernaan, mual, dan anemia.

Ada 3 jenis sulfonilurea, yaitu :


1. Sulfonilurea short acting, contohnya adalah tolbutamin. Jenis short acting memiliki sifat absorpsinya (penyerapan) cepat dan tidak dipengaruhi oleh makanan. Efek sampingnya bisa menyebabkan hipoglikemi dan terjadinya rash (kemerahan) di kulit serta gangguan pencernaan.

2. Sulfonilurea intermediate acting, contohnya :
• Acetoheksamid : memiliki sifat absorpsinya cepat dan berefek diuretik lemah (tidak terlalu berefek memperbanyak pengeluaran urin).
• Tolazamid : absorpsinya lambat
• Gliburid : absorpsinya cepat, berefek diuretik lemah, dan menghambat produksi glukosa di hepar (hati)
• Glipizid : absorpsi cepat dan dapat dihambat oleh makanan.

3. Sulfonilurea long acting : Klorpropamide dan glibenklamid
Keduanya memiliki sifat absorpsi yang cepat, berefek samping hipoglikemi, dan bukan pilihan obat DM yang baik untuk pasien lansia.

Glibenklamid merupakan obat DM yang murah dan mudah didapat. Glibenklamid bekerja dengan merangsang sekresi insulin dari pankreas. Oleh karena itu glibenklamida hanya bermanfaat pada penderita diabetes dewasa yang pankreasnya masih mampu memproduksi insulin. Pada penggunaan per oral glibenklamida diabsorpsi sebagian secara cepat dan tersebar ke seluruh cairan ekstrasel, sebagian besar terikat dengan protein plasma. Pemberian glibenklamida dosis tunggal akan menurunkan kadar gula darah dalam 3 jam dan kadar ini dapat bertahan selama 15 jam. Glibenklamida dieksresikan bersama feses dan sebagai metabolit bersama urin.

Golongan Biguanid

Yang termasuk golongan ini adalah Metformin. Selain glibenklamid, obat yang satu ini juga sama terkenalnya di kalangan masyarakat. Metformin bekerja dengan meningkatkan penggunaan glukosa di jaringan perifer dan menghambat glukoneogenesis. Dalam bekerja, obat ini membutuhkan insulin. Obat ini memiliki kelebihan tidak menimbulkan efek samping hipoglikemi karena tidak merangsang sekresi insulin. Pada awal penggunaan mungkin menimbulkan gangguan lambung atau diare, yang akan berkurang jika diminum bersama makanan.

Golongan Glitazon
Salah satu contoh obat golongan ini adalah pioglitazone (Actos, Deculin, Pionix). Obat ini bekerja dengan meningkatkan pengambilan glukosa dalam darah yang berlebih agar bisa masuk ke sel lemak. Obat ini meningkatkan sensitivitas insulin. Obat ini dapat diminum kapanpun, hanya saja tidak boleh digunakan pada penderita gagal jantung dan cukup mahal. Edem (bengkak) dan peningkatan berat badan juga sering menjadi masalah bagi pemakai obat jenis ini.

Golongan Meglitinid
Contoh obat golongan ini adalah repaglinid dan nateglinid. Obat ini bekerja seperti sulfonilurea, dengan efek samping yang sama yaitu bisa menyebabkan hipoglikemi dan meningkatkan berat badan. Oleh karena itu, sebaiknya obat diminum 30 menit sebelum makan.

Golongan Acarbose
Obat ini mampu mengurangi penyerapan glukosa di usus halus sehingga mampu menurunkan kadar gula darah setelah makan. Obat ini cukup aman, hanya sering menimbulkan gangguan pencernaan, diare, dan sering buang angin. Dari segi efektifitas masih dibawah sulfonilurea dan biguanid. Merek obat golongan ini yang terkenal adalah glucobay (3 kali sehari) dan harus diminum bersamaan dengan suapan pertama makan.

Demikianlah penjelasan singkat tentang obat-obatan antidiabetes oral. Bagi penderita DM, hendaknya selalu memperhatikan aturan pakai dari masing-masing obat untuk meminimalisir efek samping obat yang diminum. Banyak-banyaklah bertanya pada dokter dan konsultasikan mengenai kemajuan pengobatan atau efek samping obat yang dikonsumsi supaya bisa dipilih terapi yang paling cocok.

Artikel lain tentang diabetes mellitus







Selasa, 07 Oktober 2014

Obat Diabetes Mellitus

Cara mengobati diabetes






Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang sulit disembuhkan, namun dapat dikendalikan. Tujuan dari pengobatan diabetes adalah menjaga kadar gula darah penderita sampai mendekati atau mencapai batas normal (gula darah puasa 90-130 mg/dL), tanpa menyebabkan hipoglikemia (penurunan kadar gula darah di bawah normal), sehingga dapat memperlambat atau bahkan mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi.
Pengobatan DM harus menyeluruh, meliputi perubahan gaya hidup dan pemberian obat-obat penurun kadar gula darah.

• Perubahan Gaya Hidup:

1. Menjaga berat badan : berat badan yang ideal akan membantu menjaga kestabilan gula darah, tekanan darah dan kolesterol.

2. Berhenti merokok : merokok meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Jadi bagi penderita yang merokok, seharusnya segera berhenti merokok.

3. Makan makanan yang sehat : pola makan yang disarankan adalah pola diet rendah lemak, garam dan gula. Namun, bukan berarti harus pantang gula dan lemak sama sekali. Gula dan lemak dapat dikonsumsi dalam porsi sedang.

4. Olahraga : Olahraga yang sebaiknya dilakukan adalah olahraga teratur dengan durasi minimal 30 menit setiap hari, sebanyak lima kali dalam seminggu. Olahraga rutin membantu untuk tetap sehat dan menjaga berat badan tetap ideal. Sedangkan jenis olahraga yang dianjurkan adalah yang bersifat aerobic, seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang.

• Obat untuk diabetes melitus :
obat-diabetes
Diabetes mellitus tipe 1 harus mendapatkan suntikan Insulin, sedangkan diabetes mellitus tipe 2 dapat diberikan obat-obatan oral, suntikan insulin, atau kombinasi keduanya. Berikut penjelasan singkat obat-obatan pada DM:

1. Sulfonilurea
Kelompok obat ini mencakup asetoheksamida klorpropamida, glibenklamida, gliklazida,tolzamida, tolbutamida, dan lain-lain.
Sulfonilurea adalah obat-obatan pilihan pertama yang diberikan bagi pengelolaan diabetes yang tidak tergantung pada insulin. Obat ini merangsang pelepasan insulin oleh sel-sel beta dari pulau-pulau Langerhans di dalam pankreas. Namun, obat ini tidak merangsang produksi insulin. Sulfonilurea biasanya direkomendasikan 30 menit sebelum makan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

2. Biguanida
Sebuah contoh dari kelompok obat-obatan ini adalah Metformin. Obat ini menurunkan penyerapan karbohidrat dan memajukan oksidasi karbohidrat di dalam jaringan. Oksidasi adalah proses di mana kandungan oksigen pada suatu senyawa kimia meningkat. Biguanida juga mengurangi pengubahan lemak dan protein menjadi glukosa di dalam hati.

3. Insulin
Insulin dari luar diberikan untuk memenuhi kekurangan insulin dalam tubuh dan untuk menjaga agar sel-sel beta pankreas tidak mengalami kelelahan dalam memproduksi insulin. Insulin hanya dapat diberikan melalui suntikan, dengan menyuntikkan jarum yang sangat kecil ke bawah kulit pada lengan, paha, atau dinding perut.

Satu hal penting yang harus dimengerti dalam pengobatan diabetes adalah, bahwa pengobatan harus dilakukan secara terus menerus. Hal ini memang akan sedikit melelahkan, akan tetapi sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya komplikasi. Kadar gula darah yang normal pada satu kali atau beberapa kali pemeriksaan bukanlah sebab untuk menghentikan pengobatan. Pemantauan terhadap kadar gula darah harus terus menerus dilakukan secara berkala, baik di laboratorium maupun secara mandiri dengan menggunakan glukometer. Selain itu, perlu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium lain yang berkaitan, seperti kadar HbA1C, profil lemak darah, dan kadar kolesterol darah. Hasil-hasil pemeriksaan darah tersebut hendaknya dikonsultasikan secara rutin ke dokter, sehingga dokter dapat memantau perkembangan penyakit, memberikan saran agar pengobatan lebih efektif, dan menyesuaikan dosis obat atau insulin yang diberikan.

Setelah mengenal diabetes mellitus lebih dekat, baik gejalanya, deteksinya, pencegahannya, bahkan komplikasinya, ada baiknya bagi kita yang masih sehat untuk waspada terhadap penyakit ini. Caranya, dengan membiasakan diri kita dan keluarga kita untuk hidup lebih sehat, mulai dari memperhatikan pola makan, mengkonsumsi banyak buah dan sayur, menjaga berat badan agar ideal, menghindari kebiasaan-kebiasaan berbahaya seperti merokok, membiasakan olahraga, dan lebih aktif dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi Anda yang telah mengidap penyakit ini, tidak perlu terlalu cemas, asalkan tetap berusaha melakukan pengobatan secara rutin dan senantiasa memantau kesehatan Anda. Jangan lupa juga untuk selalu meminta kesehatan pada Allah dalam dzikir pagi dan sore kita. Dan semoga, Allah selalu menjaga kesehatan kita.

Sumber : Majalah Kesehatan Muslim

Artikel lain tentang diabetes mellitus